Saya (Mencoba) Mencintai Diri Saya



Hai, kalian yg sedang membaca tulisan saya kali ini.
Tulisan saya kali ini berawal dari postingan Teh Nita yg ini,


Dan saya mencoba untuk membuka apa yg tertera pada status Teh Nit tersebut, saya dibawa pada sebuah Artikel Berjudul :  BY 

Sejak Kecil, Saya 'Diajari' untuk Membenci Tubuh Saya, dan untuk Merasa Malu Karenanya. This Is How It Affects My Relationship.

Jadi kalian yg penasaran apa isi artikelnya, silahkan langsung klik saja link tersebut.
Setelah saya membaca, saya dipaksa untuk kembali mengingat kejadian yg hampir sama apa yg dituliskan pada artikel tersebut. Bedanya, saya dulu diejek dengan panggilan "ambon" karena kulit saya yg sawo matang dan dikalangan anak kecil berumur 10 tahun saya sedih dipanggil seperti itu. Namun saya menerima dengan sangat berat hati. Kalu ditanya kenapa saya menerima panggilan itu, memang anak umur 10 tahun bisa apa jika seluruh teman sekelas saya memanggil dengan panggilan seperti itu, mau menangis? tak akan ada efek apapun setelahnya. Mengadu pada wali kelas supaya mendapat pembelaan dan seluruh teman saya dimarahi? kemungkinan besar saya tidak akan mempunyai teman bermain setelahnya.

Setelah semua yg saya lalui semasa kecil dengan semua olok-olok, panggilan yg membuat saya pasrah akan apapun panggilan mereka, saya kebal. Kebal terhadap panggilan "nyeleneh" ataupun ejekan yg memang diberikan kepada saya.

Setelah itu saya beranjak ke Sekolah Menengah Pertama, dimana semua kegiatan dan orang-orang yg baru mungkin dapat membuat saya melupakan kenangan pada masa kecil saya. Pada saai itu saya memilih untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Paskibra. Paskibra adalah organisasi sekolah terpopuler kedua setelah OSIS, namun saya tidak pernah berpikir untuk menjadi siswa populer dengan mengikuti Paskibra, saya hanya menyukai nya. Itu saja. Namun lagi-lagi saya tetap mendapat ejekan atau panggilan khusus dari sekeliling saya dengan "irengan cao" (Cincau Hitam) disingkat dengan ICHA. Keren? Bagus? ya kelihatanya seperti itu. Mengapa mereka memanggilku seperti itu, ya lagi dan lagi SAYA MEMPUNYAI KULIT BERWARNA SAWO MATANG. Yang untuk sebagian orang berpikir , wanita itu cantik jika mempunyai kulit yg cerah. Dan saya memberi apresiasi panggilan tersebut menjadi nama panggilan saya hingga sekarang. Saya mencoba tidak bersedih atau menanggapi hal tersebut menjadi hal yg negatif, karena itu membuat saya semakin membenci mereka yg memanggil saya seperti itu.

Setelah saya memasuki Sekolah Menengah Kejuruan atau setara dengan SMA, saya sudah tidak mendapat olok-olok atau panggilan "sayang" lagi. Mereka seringkali memanggil saya Icha atau Adit. Dan saya mendapat kekasih yg sama sekali tak pernah mempermasalahkan warna kulit saya. Saya cukup bahagia.


Mengapa saya bilang cukup bahagia? karena semenjak kecil, saya selalu membenci warna kulit saya, saya membenci mengapa kulit saya berwarna sawo matang, tak seperti yg lain yg memiliki kulit cerah, kulit kuning langsat ataupun putih susu. Kenapa?

Saat saya bercermin, saya selalu membandingkan dengan wanita2 diluar sana yg berusaha membuat kulitnya menjadi cerah. Namun tak untuk kulitku, tetap seperti ini, mau bagaimanapun perawatannya tetap sawo matang, Mungkin bisa dengan bantuan perawatan instan seperti suntik putih atau semacamnya. Namun saya memilih untuk tidak. 

Setelah lulus dari SMK dan mulai bekerja, saya mempunyai penghasilan sendiri dan saya lebih memilih untuk membeli makanan yg dulu waktu sekolah tak bisa saya rasakan karena saya sadar, saya bukan dari keluarga berada yg bermodal meminta dengan orang tua.

Saya menyadari berat badan saya mulai membengkak, dan panggilan saya bertambah yg tadinya hanya irengan cao kini bertambah dengan "GENDUT" . Well. Untuk informasi,saya pernah berada dikisaran 48kg dan sekarang saya dikisaran 60-an. Banyak sekali? Itu tak sebanding dengan pengalaman dan kebahagiaan yg saya dapat setelah menyantap makanan yg saya sukai, tanpa merepotkan oranglain serta dari uang saya sendiri. Saya bahgia.

Namun, kebahagiaan saya serin terenggut dengan ucapan "EH, KAMU KOK GENDUT? JELEK TAU".
Saya hanya tersenyum, namun dalam hati "memang kalau saya kurus, saya akan cantik?" 
"memang kalau saya kurus, aku tidak akan pernah mendapat ejekan?".

Sekuat-kuatnya saya dihadapan kalian, hati saya tak akan kuat dengan panggilan mengejek apapun yg kalian tujukan kepada saya. Karena itu semua membuat luka lama serasa disayat kembali. Lagi lagi dan lagi. Tahukah kalian, jika kalian tak bisa membuat pujian kepada orang lain, setidaknya kalian bisa bertanya siapa namanya dan panggil-lah orang tersebut dengan namanya. Bukan dengan panggilan yg kalian ciptakan untuk mencairkan suasana atau sekedar lelucon. Bisa saja itu sama sekali tak lucu untuk orang tersebut.

Mulai sekarang, saya akan lebih menghargai apapun yg ada pada tubuh saya. Saya akan mencintai kulit saya yg hitam, badan saya yg gemuk, saya yg pendek, saya yg pesek, saya yg mempunyai strech mark dan lain sebagainya. Yg saya usahakan? saya akan mencoba hidup lebih sehat, karena sehat jauh lebih berharga daripada itu semua.

Untuk kalian yg sampai saat ini masih memanggil orang lain dengan nama ejekan atau yg lainya. Kalian tahu kan, orang yg kalian ejek tadi mempunyai Tuhan untuk mengadu, dan kalian tak akan pernah tau apa yg mereka adukan pada Tuhan, 


Semarang, 23 Februari 2016.

Aditya Novitasari.


Comments

Popular posts from this blog

#REVIEW : BODY WHITENING BALI ALUS

#REVIEW : KRIS INSTANT WHITE

REVIEW : DRAMA KOREA "SHE WAS PRETTY"