'Me' Time, Regret, Choice.

Halo kawula muda, Peace, Love and Gaul !
Gue udah kaya host planet remaja belom? Apa, kalian gak tau Planet Remaja? Yaaaa, gue ngerti sih, gue remajanya juga beberapa tahun yg lalu. Sekarang masuk remaja hampir tua. Iya gue tua. Puassss??


Pernah gak sih kalian melakukan "Me Time"? 
Kalo untuk gue sendiri, gue akan pergi ke suatu tempat sendirian. Iya sendiri, bukan karna ndak punya pacar atau temen, tapi kan namanya juga me time. Entah itu perpustakaan, tempat makan, atau mall . Yess, sounds weird huh? Kalo ditanya mau ngapain, ya bebas. Gue biasanya cuman liat-liat, terus beli barang kalo butuh. Kalo perpustakaan, kadang suka gak ada waktu untuk berlama-lam, padahal perpustakaan adalah tempat yg paling bagus buat me time. Klean bisa berlama-lama baca buku, menikmati setiap jalan cerita. Cuman kalo dirasa udah sepi, buru cek gih, takutnya dikunciin sama yg jaga perpus. Beda kalo waktu makan. Klean yg gak terbiasa bakal mikir, wah gila kali ya makan sendiri! atau enggak ah, kayak kurang kerjaan makan sendirian, kan malu dilihatin banyak orang!
Ah elah, lau bayar sendiri , lau pesen makanan sendiri, yg makan juga lau sendiri yg bikin malu apanya??? Kalo gue makan gitu ya gue makan sendirian, menghadap ke banyak orang, i mean, aku bener-bener pesen makan dan akan duduk menghadap ke tempat orang-orang kebanyakan makan. Gue fokus sama makanan dan orang-orang yg gue lihat. Gue gak main handphone sama sekali. Gue cuman makan, sambil ngelihatin orang lain sekeliling serta kegiatan mereka. Malu? Enggak lah.

Gue menikmati makanan gue sambil ngelihat pasangan makan dengan sang wanita tersipu-sipu saat sang pria memberikan suapan makanannya.

Gue melihat ibu-ibu memberi suapan ke anak-anak mereka, dan sang anak tak berhenti memainkan hadiah mainan yg mereka dapat dari makanan yg ibu mereka beli. Sehingga tak jarang ibu mereka berkata,
"Ayo nak dikunyah, jangan diemut terus nanti makanannya nangis kalo gak habis!" rayu sang ibu.

Gue melihat 2 orang makan sambil masing-masing memainkan gadget mereka. Tangan kanan mengambil kentang goreng, tangan kiri mengusap layar handphone. Seringkali senyuman tersungging setelahnya . Entah apa yg mereka lihat.

Gue melihat sekawanan perempuan yg tak memesan makanan, hanya memesan eskrim. Gue ngelihat mereka tertawa dan tersenyum, bahagia melihat manusia lain masih merasakan kebahagiaan dengan orang-orang yg mereka sayangi.

Tak jarang gue melihat 2 orang, memesan makanan, sesampainya di meja mereka jaraaang sekali berbicara dan bertatap muka. Mereka banyak makan dan menatap handphone, mereka akan berbicara jika dibutuhkan atau jika ada yg menarik dari tampilan handphone salah satu dari mereka ke yg lain.
Setelah itu mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Saat gue duduk, sendiri gue gak jarang mikirin apa yg bikin gue sedih, kesalahan-kesalahan yg gue buat.Penyesalan selama ini. Patah hati terakhir kali dan hal-hal menyakitkan dalam hidup. Gue mengingat detail-detail kejadian menyakitkan dengan mulut masih mengunyah makanan. Apa yg selama ini gue perbuat apakah membahagiakan orang sekitar gue? Apakah gue saat makan sama temen2 gue, tenggelam dengan kesibukan gue sendiri. Dekat di mata jauh di perasaan. Dekat di mata gak pernah ada di pikiran.

Saat gue patah hati terkahir kali, apakah gue yg salah? Apakah gue terlalu menginginkan apa yg belum tentu jadi punya gue? Apakah gue melangkahi pemilik semesta sehingga dengan angkuhnya berkata, gue dan dia bakal selamanya, hingga melupakan segala sesuatu di dunia ini memiliki masa aktif? Apakah jawaban terlalu memiliki terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya sebegitu besar sehingga membuat perasaan sakit hati yg teramat sakit?

Setelah memikirkan segala sesuatu yg menyakitkan, gue akan berkata, seandainya aku tak melakukan ini itu.
Seandainya aku tak bertemu dengannya waktu itu.
Seandainya dia dan gue sampai saat ini masih bersama.
Seandainya apa yg aku rencanakan dengannya dahulu berjalan dengan tanpa halangan.
Seandainya janji-janji yg pernah kita ucapkan sampai saat ini masih kita tunaikan.
Seandainya, seandainya, seandainya.......

Dan diakhir remahan makanan yg aku makan, gue segera bergegas menyadari bahwa gue masih memiliki pilihan. Pilihan hidup. Dan gue masih bisa memilih apa yg membuat gue bahagia. Gue bisa memulai mencari orang yg baru, orang yg baru yg bisa gue sayangi dan cintai. Namun belajar dari kesalahan dan penyesalan patah hati yg lalu, gue akan mencintai dan menyayangi secukupnya saja. Tak perlu berlebihan apalagi menjanjikan selamanya yg tak bisa kupenuhi karena gue juga cuman manusia biasa. Gue bisa akan menghargai orang yg ada didepanku dengan tidak bermain handphone dan menatap matanya sehimgga orang yg aku ajak bicara merasa di hormati. Jika orang lain tak memperlakukanku sama, aku akan diam saja. Anggap dia tak berbicara padaku, karena etika bernicara yg baik adalah saling melihat satu sama lain. Karena interaksi sosial lebih dari interaksi digital, untukku. Gue akan belajar untuk tidak membuat panggilan berdasarkan fisik luar manusia lain seperti, gendut, hitam, tembem, keriting, pendek, kurus, pesek dsb karena bagaimanapun, manusia tetaplah manusia. Mereka mempunya hati, mempunyai perasaan sehingga mereka bisa merasa sedih jika panggilan atau komentar tersebut menyakiti hatinya. Memang benar, apapun yg kalian lontarkan ada pada diri oranbg tersebut, namun apakah tidak lebih baik memanggil dengan nama asli orang tersebut?

Gue sadar gue akan mengalami kesedihan, patah hati , penyesalan dan kesalahan lagi di waktu-waktu yg akan datang. Namun aku akan membuat pilihan, pilihan yg akan membahagiakan selanjutnya!

Kalau ditanya apa penyesalan terkahirku, Penyesalan terakhirku adalah memesan kentang goreng dan soda ukuran Large padahal gak laper-laper banget. Tapi gue tetep makan sampe habis, karena siapa yg bakal ngabisin kalau bukan gue?



xoxo~


Semarang, 20 July 2016
Icha, 21 th, gabisa hidup tanpa sambel bangkok~


Comments

Popular posts from this blog

#REVIEW : BODY WHITENING BALI ALUS

#REVIEW : KRIS INSTANT WHITE

REVIEW : DRAMA KOREA "SHE WAS PRETTY"